Sejarah Pondok Pesantren Madinatunnajah-SULBAR
Menjejak Langkah Perjuangan: Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Madinatunnajah Sulbar
Di balik hamparan hijau Desa Tasokko, Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, sebuah mercusuar ilmu berdiri kokoh. Pondok Pesantren Madinatunnajah Sulbar resmi memulai langkah dakwahnya sebagai lembaga pendidikan Islam pada 23 Februari 2010. Peresmian bersejarah ini dipimpin langsung oleh tokoh pendidikan nasional, KH. Mahrus Amin (Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta).
Akar Perjuangan dan Tanah Wakaf Lahirnya Madinatunnajah Sulbar tidak bisa dipisahkan dari kemurahan hati salah satu pendiri utamanya, Almarhum Ayahanda Bunding, L. Dengan niat tulus berkhidmat demi kemaslahatan umat, beliau mewakafkan tanah seluas 5 hektar yang kini menjadi fondasi utama tempat para santri menimba ilmu.
Sejarah mencatat ada empat tokoh kunci (founding fathers) yang membidani lahirnya pesantren ini di bumi Mamuju:
1. Ustadz Suandi, S.Pd.I (Alumnus Madinatunnajah Tangerang Selatan)
2. Ayahanda Bunding, L (Alm) (Tokoh Penggerak & Pewakaf)
3. KH. Mahrus Amin (Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta)
4. KH. Agus Abdul Ghofur, M.Pd (Pimpinan Pondok Pesantren Madinatunnajah Tangerang Selatan)
Berbekal tekad kuat setelah menyelesaikan studi di Madinatunnajah Tangerang Selatan, Ustadz Suandi aktif berkonsultasi dengan para ulama dan tokoh di atas sejak tahun 2009. Ikhtiar tersebut berbuah manis dengan berdirinya pesantren ini setahun kemudian, di mana Ustadz Suandi diamanahkan sebagai Pimpinan Pondok.
Kemandirian Organisasi dan Angkatan Pertama Pada awalnya, Madinatunnajah Sulbar berafiliasi langsung dengan Madinatunnajah Tangerang Selatan. Namun, demi kemandirian dan efektivitas organisasi yang lebih luas, dibentuklah Yayasan Madinatunnajah Tomemba yang diketuai oleh Ustadz Suandi Bunding, L., S.Pd.I.
Proses Belajar Mengajar (KBM) perdana untuk tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dimulai pada 10 Juli 2010. Guna memperkuat mutu akademis awal, didatangkan 5 orang tenaga pengajar langsung dari Tangerang Selatan untuk membimbing para santri pertama. Buah manis perjuangan ini terlihat pada tahun 2013, saat pesantren meluluskan angkatan pertamanya yang berjumlah 4 orang santri, yang dengan sukses melaksanakan ujian di Madinatunnajah Tangerang Selatan.
Hijrah ke Bukit Madinatunnajah: Menjemput Semangat Baru Guna mengoptimalkan pemanfaatan tanah wakaf seluas 5 hektar yang berada di area perbukitan perkampungan Tomemba, pengurus yayasan memutuskan untuk memindahkan lokasi pesantren. Tempat baru ini kemudian dinamai Bukit Madinatunnajah. Peletakan batu pertama dilakukan pada 24 Januari 2013—sebuah momen syahdu yang bertepatan dengan hari pernikahan Sang Pimpinan Pondok di Bandung, Jawa Barat.
Di bukit inilah perjuangan yang sesungguhnya diuji. Memasuki tahun ajaran 2013/2014, pesantren memulai babak baru dengan fasilitas yang sangat terbatas. Sebanyak 12 santri dan 6 orang guru harus bertahan di tengah bangunan yang belum rampung sepenuhnya. Dalam keterbatasan dana untuk kebutuhan sehari-hari, beban yang dipikul terasa begitu berat. Namun, keikhlasan para pendiri, pimpinan, dan guru yang tanpa lelah mengasuh santri selama 24 jam penuh, menjadi bahan bakar spiritual yang membuat semangat belajar para santri tetap menyala tinggi.
Respons cepat terhadap kebutuhan fasilitas dilakukan dengan membangun asrama sederhana berdinding papan dan berlantai semen. Dua ruang asrama dibangun: satu untuk santri putra bersama dua orang ustadz, dan satu ruang lagi untuk santriwati, ustazah, serta pimpinan pondok beserta istri.
Gerbang Kemajuan Titik terang pembangunan mulai terlihat pada tahun 2014. Melalui kepedulian sosial Bank Mandiri, dibangunlah gedung ruang kelas baru sebanyak 3 lokal. Gedung ini diresmikan pada 27 Maret 2014, sebuah momentum berharga yang dihadiri langsung oleh KH. Agus Abdul Ghofur, M.Pd, jajaran pimpinan dan staf Bank Mandiri Cabang Makassar, serta pejabat Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah. Kehadiran ruang kelas baru ini menjadi penanda bahwa Madinatunnajah Sulbar siap terus tumbuh dan mencetak generasi rabbani di masa depan.
